10 September 2012

Day 1 (Pekael #2)

Sesaat setelah tahu Davi (yang nyanyi Bila Terasa Rindu, pernah jadi temen duet Gita Gutawa di lagu Dua Hati Menjadi Satu) kerja sebagai pembaca acara Selebrita di hari Senin sampai Rabu, Sherina bersenandung kecil. Tanda sms masuk.

Dari Miss U.

Kamu nggak pekael lagi, kah? tulisnya.


Sebenarnya aku sedang ingin menghabiskan waktu di rumah, tapi karena seharusnya sejak Senin kemarin aku masuk jadinya aku membalas pesan singkat Miss U dengan, "Iya, pekael lagi. Emang masuk hari ini gpp?"

Oke, aku tahu pesan singkatku menyiratkan seolah aku takut akan sesuatu. Dan aku memang takut akan sesuatu. Sesuatu itu akan aku ceritakan nanti dan segera.

Berhubung Miss U bilang terserah dalam balasannya, aku bisa saja bilang besok saja masuknya tapi, entah kenapa, tidak aku lakukan. Aku bilang, aku akan sampai di sana pukul sepuluh--yang kemudian molor setengah jam.

Masalahnya aku masih harus cuci baju dan mandi. Dan saat sms terakhirku kukirimkan jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh--ini, ehn, gara-gara masih nonton Ups Salah.

Yang tidak aku duga-duga adalah ternyata tidak hanya Miss U saja yang ada di kantor, tapi juga ada Mr. A, instruktorku!

Apakah saat itu aku senang? Hnn, dibilang seneng juga nggak ya, heheh. Jujur dong. Maksudku ini hari pertama pekael season dua, aku berharap sih tidak berada dalam situasi yang mencekam.

Oke, aku terlalu berlebihan. Emang Mr. A ini vampir yang siap menghisap habis darahku atau werewolf yang siap menerkamku. Mr. A itu sebenarnya orangnya asyik. Aku saja yang terlalu pendiam dan sering melamun--aku berjanji akan menguranginya meski rasanya susah. Dan aku tidak ingin tertangkap olehnya sedang melamunkan hal-hal yang dianggap tabu fantastis.

"Mana teman pekaelmu?" tanya Mr. A.

Aku bimbang bagaimana aku harus menjawabnya. Ini-lah sesuatu yang tadi aku singgung. Ada masalah sehubungan dengan tampuk kepemimpinan yayasan. Masalah itu membuat suasana lingkungan yayasan mencekam. Aku tahu ini dari Partner pekael-ku (ppkl).

Kemarin ppkl datang meminta bantuanku. Apa aku pernah mengatakan kalau sebelumnya dia tinggal di asrama yayasan? Kalau belum, sekarang kalian tahu.

Nah, ppkl yang merasa kurang nyaman berada dalam lingkungan yayasan meminta bantuanku untuk sementara menampung barang-barangnya sebelum dia menemukan tempat kos baru. Aku tidak membantu dia berkemas. Tapi aku membantunya mengangkut barang-barangnya yang lumayan banyak.

Tidak itu saja berita mengejutkannya--meski berita itu yang paling mengejutkan, karena berita itu juga yang membuat pilihan itu muncul di benak ppkl. Pilihan untuk berhenti pekael.

Oh, boy!

Ya, oh, boy. Aku kontan terperangah.

Kalian pasti berpendapat hal itu bukan masalah besar bagiku, apalagi bagi kalian yang membaca pekael series season pertama. Tapi aku sangat membutuhkannya. Ada tugas dari instruktor kami, kalau kalian masih ingat, yakni membuat program untuk klinik. Data yang kami dapat sudah cukup lengkap. Tapi aku tidak bisa mengolahnya. Ppkl bisa.

Kenapa ppkl bisa sedang aku tidak? Jawabannya mudah. Aku belum punya PC maupun laptop.

Ironis memang. Mahasiswa teknik informatika tapi tidak punya perangkat yang vital seperti itu.

Dulu aku sempat berpikir, "Ah, kalau ada tugas kampus aku bisa mengerjakan di warnet. Lagian warnet juga dekat dari rumah."

Tapi itu dulu. Sebelum aku tahu bahwa warnet paling mentok hanya bisa dipakai tugas presentasi (Ms. Powerpoint). Kebanyakan warnet tidak mengijinkan pelanggan menginstal program apapun di dalam komputernya clientnya--terlebih lagi komputer server, sangat tidak sopan dan menjanjikan tendangan di bokong (ala-ala Spongebob).

Kebingungan itu kemudian bermuara. Mulutku melontarkan jawaban aman, "Saya tidak tahu, pak."

Belum sempat duduk, baru juga meletakkan tas dan hendak menyalakan komputer--kentara sekali kantor baru dibuka, Mr. A meminta bantuanku mengisi galon air. Tidak masalah. Malah permintaannya itu mengurangi kekikukanku.

Sekembalinya aku mengisi galon air, mengangkatnya dengan cara dipeluk, berhati-hati air tidak tumpah--galonnya tidak ada tutupnya, menjungkirbalikkannya di atas dispenser, Mr. A punya kabar gembira untukku.

"Kamu besok pakai kaos saja ya kemari," katanya.

Batinku, wow! Bagus dong, nggak perlu tampil resmi ala-ala pegawai dong!

Ternyata dia belum kelar ngomong, "Besok kamu akan saya ajak pasang kabel jaringan. Semua jaringan harus bisa terkoneksi ke ICT."

Masang kabel sih nggak ada masalah. Masalahnya, apakah saat masang kabel kedua kakiku masih menjejak bumi atau melekat pada batang tangga?

Jujur saja, aku agak takut pada ketinggian.
|| | Copy Right By : Rean's Corner | Design By : Cuerosbhelatos ||

Posting Komentar