Ternyata lebih sulit dari dugaanku. Menghindari mereka maksudku.
Terbiasa "melek pertanda" membuatku tak bisa lari dari mereka. Nama mereka terus muncul, muncul, muncul dimana-mana. Di tv, di selebaran, ketika browsing di internet.
Aku capek harus berulang-ulang menenangkan diri, atau ngobrol dengan diri sendiri bahwa itu hanya kebetulan atau nama mereka memang nama yang sangat umum. Nama yang dimiliki oleh milyaran orang di dunia.
Padahal aku sangat butuh fokusku untuk menyelesaikan naksah amore-ku. Tapi kenapa mereka terus menggangguku?! Aku tidak bisa mengenyahkan bayangannya tentang mereka. Meski tak pernah muncul di dalam mimpi, tapi tiap aku memandang apapun, atau ketika aku tidak sedang membaca buku atau nonton film, lekuk wajah mereka membayang di pelupuk mata. Kemudian otak kotorku langsung memutar adegan-adegan bagaimana kami berkenalan, bagaimana kami bicara--topik apa saja yang akan kami bicarakan, bagaimana kami kemudian...
Aku nyaris gila. Kenapa aku harus punya perasaan ini? Padahal enak sekali ketika aku dulu sama sekali tidak memikirkan cinta--untuk diriku sendiri. Cukup cinta untuk orang lain yang kutuangkan dalam tarian di hamparan keypad Sherina.
Dan yang lebih memalukan lagi, kenapa mata ini malah berair? Sebentar... Aku harus mencari tempat yang sekiranya sepi dan tenang.
Butuh sekitar 5 menit untukku memperingatkan mataku untuk tidak mempermalukanku. Demi Tuhan, aku masih ada kantor, ada Miss U, ada Miss B, dan ada penjaga perpustakaan dan kedua anaknya yang main ke kantor, aku tidak mau dicap sebagai laki-laki cengeng. Apalagi sampai ditanyain kenapa aku menangis--aku belum siap menceritakannya pada orang lain dalam bentuk lisan.
Aku ingin segera pulang ke rumah.
Posting Komentar