Kita lewati saja bagian paginya. Seperti biasa aku masuk kantor dibantu Miss L. Tapi kali ini aku tidak menunggu dalam diam. Oke, aku biasanya nggak diam-diam amat. Biasanya aku ngetweet sebentar dan langsung aku sign out dan hapus history selancarku saat pintu dibuka oleh... Salah satu petugas ICT, terlebih Mr. A, sang instruktor. Percayalah, aku bisa melakukannya kurang dari satu menit--apalagi PC-nya sudah ngegunain prosessor intel i3.
Teracuni oleh kalimat Miss U kemarin mengenai film "In Time", karena film itu telah ada di folder Movies, setelah online sebentar--setor satu poin untuk memperbesar kemungkinanku memenangkan The Kill Order dan Insignia, langsung kuputar filmnya di VLC Player.
Selama lebih dari satu jam, aku dibuat terpukau oleh film yang dibintangi oleh Justin Timberlake dan Amanda Seyfried itu. Idenya benar-benar... Amazing! Baru kali ini aku nemu film yang menggunakan waktu (hidup) sebagai mata uang!
Mau beli kopi? Bayar 4 menit. Sumbangan untuk pengemis? 5 menit. Naik bus dari titik A ke titik B? Bayar 2 jam!
Manusia di "In Time" didesain untuk hidup selama 25 tahun. Di tangan kirinya tertera waktu hidupnya. Bila manusianya masih hidup warnanya hijau. Hijau-hijau ala tulisan glow in the dark (dan memang glow in the dark). Bila manusianya metong, eh, meninggal, warnanya berubah hitam. Dan karena pada dasarnya manusia ingin hidup lebih lama... Well, entah bagaimana awalnya, jangan mempertanyakannya--inilah prolog film itu, yang jelas kalau ingin hidup lebih lama ya, waktu hidupmu harus ditambah.
Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana cara menambah waktunya. Ada dua cara. Cara pertama, cara baik-baik. Kedua, kebalikannya, cara kurang baik.
Cara baik-baik: (a) bekerja (b) pinjam di bank (c) pemberian orang lain.
Cara kurang baik: (a) merampok/mencuri Ya, mata kalian tidak menipu. Yang dibacanya memang merampok/mencuri. Waktu bisa dicuri? Bagaimana caranya? (b) menang judi.
Cara mengambil dan memberi waktu ada dua (lagi). Pertama, dengan berpegangan tangan. Tangan diatas memberi, tangan dibawah menerima. Kedua, dengan alat. Jenis alatnya ada dua. Satu, berbentuk kotak dan ada lubang besar ditengahnya. Digunakan di lokasi seperti kedai kopi, bayar bus, pembayaran gaji karyawan. Satu lagi alat portable. Bentuknya kotak dan lebih besar sedikit dari ukuran Galaxy Note.
Idenya sangat menjanjikan bukan? Kebetulan juga aku lihat film ini saat aku sedang cinta-cintanya pada genre kisah dystopia.
Adalah Will Salas, seorang pemuda dari zona waktu termiskin, bekerja di pabrik pembuatan alat waktu portable, yang menjadi pemeran utama dalam kisah ini. Dia bermimpi suatu hari nanti membawa dirinya dan ibunya (yang cantik dan sexy--ingat soal manusia [secara genetik] didesain berumur hingga 25 tahun? Di In Time ada bayi, anak-anak, remaja, 25 tahun, tapi tidak ada orangtua) tinggal di New Greenwich (zona waktu paling mapan, tempat tinggal orang kaya yang umurnya... Siap-siap terbelalak, dalam hitungan abad!).
Will secara tidak sengaja bertemu dengan pria berumur 110 tahun. Dan dia... Bosan hidup. Ada genk penjahat yang menguasai wilayah tempat tinggal Will. Dia sering merampok waktu orang-orang. Tidak sampai habis (dari hasil analisaku, kalau sampai habis "tambang" hidup abadinya hilang dong), tapi cukup untuk bikin menderita seseorang. Dan tentu saja, pria yang punya umur seabad itu tidak melakukan perlawanan.
Will menyelamatkannya. Lari. Lari. Lari. Sembunyi. Ngobrol. Tertidur. Si pria seabad memberikan banyak waktunya pada Will dan menyisakan sedikit waktunya untuk menikmati cerahnya pagi (atau fajar) sebelum menyambut kematiannya.
Will jelas kaget waktu ditangannya bertambah. Dia berusaha menyelamatkan pria itu tapi... Terlambat.
Sayangnya, pemberian waktu itu dianggap sebagai pencurian oleh Time Keeper (semacam polisi). Dan ya, Will dikejar olehnya.
Well, aku nggak bisa mereview semuanya. Kalian mesti melihatnya sendiri. Film yang lumayan untuk ide yang amazing.
Ada beberapa bagian yang membuat In Time, menurutku, belum bisa seamazing idenya. Kesedihan Will kurang dieksplore saat kematian ibunya. Will kurang ngotot menjelaskan bahwa dia tidak mencuri waktu untuk ukuran cowok yang tidak mudah menyerah pada kehidupan dan menghargai tiap detik kehidupannya. Seandainya dia dibikin ngotot, terus ada adegan dia capek menjelaskan di klimaks mungkin film ini akan lebih dramatis, menurutku.
Jujur saja, aku iri dengan idenya. Sebagai seorang penulis ide menggunakan waktu sebagai mata uang itu terbilang simple. Sangat simple! Kalau dibikin bentuk teksnya kayaknya bakal lebih emosional dan lebih keren deh!
Idenya tidak berhenti di situ saja. Dunia "In Time" juga dilengkapi bank dimana orang bisa menyimpan waktunya. Dan bank pinjaman yang memberi kredit waktu. Dan perorangan/organisasi amal yang bagi-bagi waktu secara gratis.
Tapi ya, seperti yang aku bilang. Film ini masih lumayan. Masih banyaaak yang bisa dikembangkan. Tapi karena "sistemnya" telah runtuh, entahlah... Kabarnya film ini mau dibikin sekuelnya.
Oke, jadi aku niat pekael atau nonton film? Anggap saja sambil menyelam minum air, hahah.
Tapi, aku tidak nonton dalam keadaan damai dan tenang. Perasaan bersalah itu ada, tapi kalau filmnya worth it... Ya, rasa itu akan sirna dengan sendirinya. Aku kepergok instruktorku ketika di menit 19. Karena aku masih tahu diri, aku kontan menutup VLC player dan menjauhkan jemariku dari hamparan keyboard dan tikus. Dia menanyakan dimana ppkl, aku bilang dia... Dalam perjalanan. Mr. A menyuruh ppkl (dan aku juga) pergi ke Telkom melakukan sesuatu. Bayar tagihan internet mungkin. Aku dipersilahkan ikut atau bisa tetap di kantor oleh Mr. A. Tapi ppkl pengen berangkat sendiri. Baguslah. Masih ada film yang mesti aku tonton.
Menjelang ending In Time, ada dua murid cewek--ICT mengurusi jaringan internet sebuah yayasan sekolah--yang datang.
"Kata Mr. A kami disuruh kesini kalau mau bikin paypal," kata salah satu dari cewek itu. Demi menjaga sedikit unsur anonim dalam seri ini aku tidak akan menyebutkan kedua nama cewek itu.
Buseet! Udah main paypal aja, kataku. Dalam hati, tapi. Lalu aku menjelaskan seluk-beluk soal paypal. Tapi aku nggak mau bantu mereka bikin akun paypal. Aku lihat mereka masih belum kenal internet dengan baik. Jadi daripada paypalnya nganggur... Aku bilang mereka bikinnya sama Mr. A saja.
Terus mereka minta ajarin blog. Aku beri mereka sedikit kuliah soal blog--ini pertama kalinya mereka bikin blog. Aku bikinkan juga satu blog untuk mereka. Aku beri penjelasan singkat mengenai fungsi beberapa opsi dalam blog. Mereka menyimak cukup baik.
Mereka tidak datang untuk minta ajarin bikin paypal dan blog saja. Mereka juga mau daftar username untuk bisa akses wifi. Pendaftaran pertama yang aku urus! Rasanya biasa saja kok, sebenarnya. Abaikan saja tanda serunya.
Setelah mereka pergi, ppkl datang ke kantor lagi setelah melaksanakan tugas yang diberikan Mr. A.
Tapi berhubung moodku sedang baik, aku tidak menginterogasinya. Lagipula, masih ada film yang minta dikelarin.
Dan ending In Time, bikin keningku berkerut. Bukannya sistem telah runtuh, orang-orang di zona waktu termiskin dapat waktu hidup banyak dan menyebar ke zona waktu lainnya? Terus kenapa Will dan Amanda (aku lupa nama perannya) hendak merampok bank? Atau mungkin itu bank di negara lain? Karena setting lokasi yang digunakan, tentu saja, Amerika (ada petanya).
Ppkl minta In Time diputar lagi. Aku kabulkan. Tapi kami tidak melihat hingga kelar. Salah satu petugas ICT, aku lupa namanya, datang. Jam dinding pun menunjukkan tengah hari telah lama berlalu. Ppkl mengajak pulang. Aku menyambut gayungnya.
Posting Komentar