20 Agustus 2012

Day 3 (Pekael series)

Saat aku bangun, matahari telah jauh tinggi. Kutengokkan kepalaku ke arah kanan, dimana sebuah jam bundar bergambar Andrey Shevchenko berdetak menggetarkan dinding.

8.11.

Butuh waktu beberapa detik bagiku menyadari bahwa aku kesiangan. Kupaksa diriku bangun dan berderap ke kamar mandi. Aku mandi, ganti baju (kemeja warna hitam, celana kain warna senada), mengenakan sepatu secepat cheetah berlari. Mengingat hari ini bulan puasa, tidak ada berhenti untuk duduk menikmati sarapan dan langsung pergi ke kantor ICT.

Aku sudah terlambat.


Sepanjang perjalanan aku tidak bisa santai. Ingin sekali aku berlari. Kalau tidak ingat hari ini puasa, kalau tidak ingat aku harus hemat dalam pengeluaran stamina, mungkin aku sudah melakukannya.

Aku pasrah saja. Dimarahi ya dimarahi. Dimaki ya dimaki. Aku bisa membayangkan kalimat apa yang akan terlontar dari instruktorku, "Baru juga hari ketiga pekael sudah telah! Sudah nggak usah pekael. Cari tempat pekael di tempat lain!"

Bayangan itu cukup membuat kecepatan derap langkahku meningkat, sambil dalam hati mengingatkan diri agar tidak terlalu banyak melepaskan energi.

Sepuluh meter dari perpustakaan, aku menghentikan langkahku. Coba tebak apa yang membuatku berhenti mengayunkan kakiku? Instruktorku menunggu di bawah tangga--perpustakaan termasuk kantor ICT berada di lantai dua? Ada anjing gila dengan air liur menetes menghadang jalanku, siap menerkamku? Mantan pacarku tiba-tiba muncul, dia minta maaf dan ngajak balikan? Atau, penulis idolaku sedang mengadakan acara kejutan untuk fansnya dengan mendatangiku langsung di tempat pekael?

Aku bilang semuanya itu benar. Benar-benar imajinasi yang sangat aktif.

Instruktorku belum datang. Tidak ada anjing di lingkungan tempatku pekael, malahan anjing dilarang berada di lingkungan ini. Mantan pacarku sibuk syuting film (bohong ini! Mana kutahu dia sibuk apa? Aku bukan type cowok suka stalking). Penulis idolaku, well, dia baru pulang dari tournya. Jadi mana mungkin dia ikutan acara semacam itu. Lagipula acara semacam itu biasanya butuh pelapor guna mendaftarkan diriku. Sementara yang tahu aku fans berat seorang penulis ini hanya sedikit sekali. Bisa dihitung dengan jari!

Jadi apa yang sebenarnya membuatku terpaku?

Pintu perpustakaannya masih tertutup rapat. Itu artinya... Seharusnya tadi aku cuci baju dulu. Besok numpuk deh cucianku. Itu artinya aku mesti bangun lebih pagi lagi. Hiks.

Miss L, seperti kemarin, menjadi dewi penyelamatku. Kantor--tentu saja masih--sepi. Dan aku, seperti biasa, menunggu lagi.

Pukul sepuluh kurang sedikit, ppkl datang. Kami ngobrol sebentar dengan topik remeh. Sebelum dia membuka laptopnya dan mencolokkan kabel LAN. Oh iya, di ICT tersedia empat kabel LAN yang bisa digunakan mereka yang punya laptop. Coba tebak siapa yang belum bisa menggunakannya? Yak, aku.

Pukul setengah sepuluh kurang lima menit. Miss U datang. Sejak masuk kantor dia sibuk. Entah dengan daftar apa. Mungkin laporannya. Aku malas menjelaskannya--secara tidak ada yang bisa kujelaskan.

Kemudian diikuti dengan datangnya Mr. H yang mengecek jaringan internet. Biasa, ada yang error. Bodohnya, aku tidak memperhatikannya. Baru setelah dia pergi aku menjerit dalam hati, "Niat pekael nggak sih, Re?!"

Mr. A datang sebentar. Menginspeksi perkembangan kami mungkin. Untungnya pas dia baru masuk aku terlihat sibuk. Jangan salah, aku memang sibuk. Sibuk membantu Miss U.

Ppkl mengajak membuat salah satu laporan pekael kami. Aku jelas mengusulkan mengerjakan yang paling mudah dulu: Manual Dude for Windows. Namun baru bikin satu screenshot... Niat itu menguap dari hati dan pikiran si ppkl. Mungkin karena Mr. A pergi. Karena kami mengerjakan di laptop milik ppkl, pc yang biasanya aku gunakan digunakan Miss U, dan dia ingin menggunakannya untuk pacaran, maka mau tak mau aku duduk-duduk menganggur.

Saat Miss U datang tadi, dia membawa novel berjudul Anak Sejuta Bintang. Kami sempat terlibat sedikit percakapan mengenai dunia pernovelan. Lalu beralih ke perfilman, dia menyebut soal film In Time dimana katanya dalam film itu waktu adalah uang (orang bisa mati kapan saja dan yang dicuri dan dirampok adalah waktu). Kata-katanya itu menimbulkan sedikit percikan penasaran dalam dadaku.

Karena novel ASB itu, jelas aku berspekulasi Miss U suka baca. Jadi, aku menunggu dia tidak sibuk dan "memaksa"-nya membaca satu cerpenku. Cerpen dari koleksi lamaku berjudul Bocah Penjual Cookies. "Bagus," katanya beberapa paragraf sebelum kisah itu berakhir.

Tentunya aku mengucapkan terima kasih atas apresiasinya.

Hari ini tidak banyak kejadian yang membekas di hatiku. Sebenarnya jatuhnya malah ke bosan. Aku bertanya-tanya, apa nanti saat tidak bulan puasa, ketika banyak petugas ICT masuk, aku akan luntang-lantung kayak gini? Semoga tidak. Semoga tidak pernah datang hari itu.

#Eh
|| | Copy Right By : Rean's Corner | Design By : Cuerosbhelatos ||

Posting Komentar