Aku sengaja menjemput ppkl ke tempatnya. Kali aja dengan aku menjemputnya dia jadi tidak terlambat lagi.
Harapanku memudar. Dia bilang, santai saja. Toh memang jam masuknya santai.
Tentu saja aku cemas. Maksudku, bagaimana kalau Mr. A tiba-tiba datang menginspeksi dan tidak menemukan kami berdua di kantor?
Harapanku memudar. Dia bilang, santai saja. Toh memang jam masuknya santai.
Tentu saja aku cemas. Maksudku, bagaimana kalau Mr. A tiba-tiba datang menginspeksi dan tidak menemukan kami berdua di kantor?
Aku menunggunya mandi--dia baru kelar telepon, kemungkinan besar calon pacarnya. Akhir-akhir ini dia kelihatan sangat galau. Selain status facebooknya, tingkah lakunya juga begitu. Sedikit-sedikit tanya pendapat seseorang mengenai kepribadian seorang cewek--kemungkinan besar calon ceweknya.
Aku mengira kami sudah telat. Ternyata petugasnya, Mr. R belum masuk ke kantor. Dia masih berkutat dengan handphonenya di teras perpustakaan. Kami berbasa-basi sebentar. Kemudian dia membuka pintu perpustakaan yang terkunci rapat.
Baik petugas perpustakaan dan petugas ICT dibekali dua kunci. Kunci pintu perpustakaan dan kunci ruang ICT.
Apa aku pernah menceritakan seperti apa kantor ICT?
Apa? Ohh, sama. Aku juga merasa aku belum pernah menceritakannya.
Ruangannya itu berbentuk balok. Ketika membuka pintu kita akan disambut oleh satu set meja dan kursi, jumlahnya empat, dari rotan. Di sisi kiri kita kita akan menjumpai tempat sampah berukuran sedang. Ada dua meja dengan dua komputer desktop. Di meja pertama, dekat pintu, CPU diletakkan dibawah meja. Sementara di meja satunya, CPU diletakkan di sebelah monitor--semua monitor di ruangan ini menggunakan monitor jenis LCD. Di sebelah kiri meja kedua ada rak tiga tingkat yang dijejali komputer, CPU, keyboard, router dan hub--mereka yang disebut server, mengatur lalu lintas internet.
Di sisi kiri rak ada ruangan kecil yang disebut dapur. Sudah tersedia kopi, pemanas air, dan banyak cangkir dan tatakan. Kardus-kardus bekas ditumpuk sembarangan di sisi dinding timur.
Di ujung barat ruangan terdapat rak buku. Memanjang di 3/4 dinding. Terdapat meja panjang, berserakan kertas dan buku-buku, dan kursi dari plastik. Di sekitarnya ada dua meja. Satu meja kayu ala-ala meja sekolahan. Satu lagi meja kayu hitam dengan kaca melapisi bagian atasnya. Di sisi utara ada rak lagi. Banyak barang yang dijejalkan disana.
Aku menyalakan komputer pertama, komputer di meja pertama, sambil meminta Mr. R mengajari kami Dude for Windows. Dia bilang dia tidak bisa. Aku melongo dibuatnya.
Mr. R hanya membukakan pintu. Dia kemudian kembali keluar.
Beberapa jam kemudian, Miss B datang. Aku bertanya dengan sopan, apakah dia bisa mengajari kami menggunakan Dude?
Dia bilang dia tidak bisa juga, sama kayak Mr. R. Tapi dia menambahkan, "Jaringan bagiannya Mr. H. Kami bertugas di bagian masing-masing."
Aku mencatat dalam hati untuk nanti saat bertemu dengan Mr. H lagi aku akan memintanya mengajari kami menggunakan Dude.
Hari itu berakhir dengan cepat. Hari itu aku gunakan untuk menyelesaikan Manual Dude for Windows part pertama. Kami, aku dan ppkl, pulang duluan, meninggalkan Miss B yang berkutat dengan PC dua.
Posting Komentar