Saat aku membuka pintu kantor, aku menemukan notebook Mr. A dengan
posisi terbuka nangkring di atas mejanya. FYI ya, meja yang sering
digunakan Mr. A tepat berada di meja di mana PC 1 berada.
Hari ini aku ada kuliah jam 7, tapi dosennya baru ngajak ke kelas jam
setengah 8 lebih. Maklum saja sih. Mungkin dia menunggu hingga banyak
mahamurid yang datang. Dan karena mata kuliahnya mata kuliah gabungan,
sejauh ini, ini adalah kelas kedua teramai yang kuhadiri.
Karena mesti kuliah dulu, maka aku berangkat ke kantornya pukul 9 kurang beberapa something (?)
Aku kontan membuka localhost/phpmyadmin melanjutkan bikin database yang
Sabtu kemarin error. Dan hingga pagi ini ketika kucoba lagi, error itu
masih terjadi. Baru setelah percobaan kedua, aku tahu Sabtu kemarin aku
tidak gagal. Data yang aku masukkan terakhir ternyata sudah berada di dalam database. Pantas ada notifikasi
duplicate. Aku tidak melihat tombol scroll di bawah data ke-30.
Aku memasukkan semua data obat hingga tuntas. Total ada 96 data.
Sebenarnya 97 tapi 1 data obat tidak diberi nomor jadinya aku
melewatinya. Mungkin nanti aku bakal balik ke klinik untuk mencaritahu.
Saat asyik-asyiknya bikin paragraf persuasif di sebuah blog buku yang
sedang mengadakan giveaway, Mr. A tiba-tiba datang. Kontan jantungku
mencelat. Apalagi dia membuka pintunya sama sekali tidak santai.
Tanganku bergerak cepat menutup tab twitter, goodreads dan email.
Membiarkan tab blog buku, localhost, dan tab google search tetap
terbuka.
Aku kelarin dulu paragraf persuasifku sebelum kututup dan menyelesaikan memasukkan data obat.
Ada adegan curi-curi buka twitter dan goodreads. Ada adegan seberapa
cepat menutup banyak tab dalam 4 detik. Ada adegan di mana kejengkelanku
muncul ke permukaan--dimana Mr. A memintaku (entah dengan bercanda atau tidak) pulang jam 3 sore.
Nyaris
saja kejadian hari kedua pekael di season pertama terulang kembali.
Untungnya Mr. A datang dan dia punya kunci perpustakaan di
tasnya--tasnya ada di kantor. Dia pergi tadi dengan seorang koleganya
tanpa membawa tas dan dititipkan kepadaku--Miss U pulang duluan.
Sekembalinya dia siang itu, tanpa koleganya, saat itu pukul setengah dua, dia menanyaiku soal sampai mana aplikasi klinikku.
Jantungku
berdegup kencang. Apa yang harus kukatakan? Kejujurankah? Tapi kalau
jujur apakah dia akan... menyemburku? "Baru data-datanya, pak," kataku
lemah. Dan ya, itu kejujuran.
"Nanti Rabu saya kamu demokan aplikasi kamu ya," lanjut Mr. A.
Jantungku seolah sedang dikejutkan oleh alat pacu jantung--apapun namanya. "I-iya pak," jawabku. Apalagi yang bisa kulakukan?
"Kamu mau pulang sekarang?" tanyanya.
Aku mengangguk dan berkata pelan, "ya." Mungkin tenagaku terkuras habis gara-gara "dihantam" dua kejutan yang baru kuterima.
Di perjalanan pulang aku berpikir keras, Bagaimana kalau dia tahu aku masih belum bisa pemograman?!
Posting Komentar