Entah apa yang ada di pikiranku ketika mengiyakan ajakan Bunda dan adikku untuk nonton Orkes Dangdut. Mungkin saat itu aku sedang ingin bercinta suntuk, atau mungkin sedang ingin menghapus kegalauan yang sedang melandaku. Jadi ketika bunda berkata, "Mas (kalau di hadapan adikku, beliau memanggilku dengan sebutan itu), nonton orkes yuk", aku kontan mengiyakannya.
Bukannya aku tidak suka dangdut, aku suka dengan lagu dangdut terutama lagu-lagunya Rita Sugiarto. Tapi biasanya Orkes Dangdut zaman sekarang itu lagunya... katakan saja bukan seleraku.
Setelah berganti pakaian, kuganti celana pendek kotak-kotakku dengan
celana berkantong dalam berbahan jeans dan menggunakan jaket di atas
kaos merahku, kulihat Bunda hanya menambahkan jaket parasit di atas
dasternya, kukeluarkan motor ke teras. Memanaskannya sambil menunggu
adikku yang pakai dandan segala.
Sempat jengkel juga. Dia kan salah satu yang ngajak, kenapa malah belum siap?
Beberapa menit kemudian--gila aja kalau mau ngehitungin berapa menit
tepatnya, dia muncul dalam balutan jaket double zipper dan celana pensil
hitam. Di kepalanya nangkring jepit yang serasi dengan jaketnya.
"Aku kira kamu ketiduran," kataku dengan sebanyak mungkin nada sarkastis.
"Ayo berangkat," katanya. "Keburu buyar orkesnya."
Dih, baru datang sudah nyuruh-nyuruh. Kalau nggak ada Bunda sudah aku jitak kepalanya.
Kunyalakan motorku dengan kick-stater. Adikku naik duluan, kemudian
Bunda di belakangnya. Letak orkes dangdutnya ada di desa sebelah. Butuh
sekitar sembilan menit untuk mencapainya dengan kecepatan 40 Km/jam
(mesti safety riding dong, apalagi aku membawa dua nyawa di belakang
punggungku--meski sebenarnya nggak safety amat apalagi ada tiga manusia di atas motor dan para penumpangnya juga drivernya tidak menggunakan helm, hehehe).
Bunda menyarankan untuk menitipkan sepeda motor kami di penitipan
dadakan yang diadakan penduduk sekitar lapangan desa K (sengaja hanya
aku tulis inisialnya saja). Orkes Dangdutnya diadakan di lapangan desa
K, di depan balai desa, dan diadakan dalam rangka hari ulang tahun
desa--atau merayakan panen raya, atau acara bersih desa, entahlah mana
yang bener, selain karena kurang informasi aku kurang lebih tidak
peduli. Secara aku kesitu bukan mau menanyai orang tapi mau
have fun melepas penat yang mencengkeram diri.
Aku memindahkan dompet dan telepon genggamku ke saku di depan jaket.
Bunda telah melakukan itu terlebih dahulu padaku. Adikku tidak
melakukannya. Dia tidak membawa dompet dan handphone tak pernah lepas
dari tangan dan pengawasan matanya--masih niatkah nonton orkes?
Penyanyinya, seorang perempuan cantik berambut panjang lurus menggunakan
baju ketat berwarna hitam-putih, baru kelar melantunkan satu lagu
sesampainya kami beberapa meter dari panggung, "Masih mau lanjut?!"
Teriaknya.
Lanjut apa nih? Sontak tanyaku dalam hati. Lalu terkekeh sendiri memikirkan jawaban-jawaban absurd.
"Lanjuuut!" Koor para penonton.
Kemudian penyanyi itu ngomong sedikit basa-basi, dan kembali menyanyikan
lagu. Aku nggak tahu judul lagunya, aku lupa, tapi di lagu itu salah
satu jenis sapu sering disebut-sebut (juk, ijak, ijuk, ijak, ijuuuuk,
hatiku gembira).
Di tengah-tengah lagu, hal yang tak terduga terjadi. Sebuah keributan.
Seorang lelaki paruh baya mendorong lelaki paruh baya lainnya. Lelaki
yang didorong balas mendorong. Terjadi aksi dorong-dorongan. Dilihat dari gerakan mereka agak sempoyongan, tampaknya mereka dibawah pengaruh minuman keras--ini sih dugaanku. Aku bakal kaget bila dugaanku benar, kalau mereka menenggak minuman beralkohol bahkan sebelum jam menunjukkan lewat pukul sembilan.
Beberapa orang mencoba melerai, tapi mereka kena hantaman dan kemudian, mungkin karena tidak terima, ikut terjun dalam baku hantam. Nah, lho. Beberapa orang menyingkir--entah menyingkir karena tidak ingin terkena
bogem nyasar, atau menyingkir untuk memberi ruang pada dua orang yang
sekarang baku-hantam itu, masalahnya mereka malah menyoraki yang sedang adu kekuatan.
Sontak sang penyanyi menghentikan nyanyiannya. Musik yang berirama digantikan oleh teriakan-teriakan kabur orang-orang.
Bunda beristighfar. Sebenarnya aku pengen lihat bagaimana kelanjutan
pertikaian itu, tapi karena tak tega melihat beliau melihat adegan kekerasan
di depan mata beliau, aku mengajak beliau pergi sambil sebelah tanganku menarik
tudung jaket adikku.
Bunda mengusulkan agar kami pulang, tapi aku dan adikku kompak
menolaknya. Aku suntuk di rumah, sementara adikku... Aku nggak tahu apa
motivasinya. Aku kemudian mengusulkan agar kami jalan-jalan sebentar
menyusuri jalan di sekitar lapangan, di mana berjajar banyak warung
dadakan dan pedagang kaki lima.
"Siapa tahu ada yang jualan gantungan kunci," kataku, setelah kami berada di luar lapangan dan telah berdiri di dekat penjual tahu goreng--penjualnya sedang menggoreng beberapa tahu. Dulu aku suka
mengoleksi gantungan kunci, dan seluruh keluargaku tahu itu. Yang tidak mereka tahu adalah, kebiasaan itu sebenarnya telah hilang terkikis waktu.
Selang lima belas menit, Penyanyi kembali melakukan pekerjaannya. Apakah pertengkeran tadi sudah selesai?
Aku menanyakan hal itu pada Bunda dengan maksud agar beliau mencaritahu.
Beliau menangkap "umpan" yang kulemparkan, dia bertanya pada seorang
ibu-ibu berkaos putih, "Pak Lurah yang melerai. Dia juga mengancam acara
bakal berakhir kalau mereka tetap berkelahi."
"Tidak manggil polisi?" Aku tidak tahan untuk tidak nyeletuk.
Ibu-ibu itu melihatku sekilas, kemudian menggeleng.
Dalam hati aku sedikit kagum dengan Pak Lurah desa K. Dia turun langsung demi berlangsungnya acara perayaan desanya.
Sesaat sebelum kami pulang, kami balik lagi ke dekat panggung.
Sebenarnya, Bunda dan adikku terpaksa mengikutiku--mereka jelas telah
kehilangan mood berada dekat tempat yang beberapa menit yang lalu secara
mendadak menjelma jadi ring tinju. Salah seorang penyanyi, gadis
mengenakan bando berbentuk pita dan baju terusan warna biru, menyanyikan
lagu Rita Sugiarto, Pacar Dunia Akhirat!
Orkes Dangdut itu menjadi konser pertama yang aku datangi di mana terjadi tawuran antar penonton.Meski aku singkat berada disitu, aku belajar beberapa hal: Jangan gampang tersulut emosi ketika berada di tengah banyak orang, kalau tidak mau badan babak-belur.
Lucu yah Jun, kamu mengemudi 40km/jam dengan alasan safety riding, tp kamu bawa 2 penumpang di satu sepeda motor. Sebenarnya sepeda motor itu hanya untuk dua orang, dan kamu ga pake helm? ehhehehehehh ;p
BalasHapus>> Okty
BalasHapusiya, apa boleh buat. Nggak mau ditinggal si adiknya :)) Helmnya nggak dibawa soalnya takut ilang kalau ditaruh di penitipan, terus kalau dibawa terus risih XD
*ketawa liat komen piki* you're absolutely right, pik. :))))
BalasHapus*kasih apem buat Asti (?)*
BalasHapusitu yang mas jun sebut sapu injuk kayaknya lagu kereta malam...
BalasHapussering banget dulu diputer sama tukang cd bajakan di samping tempat kerja XD
ohh, jadi judulnya Kereta malam :))
BalasHapus