Kali ini aku tidak mengurutkan harinya disebabkan... Aku lupa kejadian apa yang terjadi di hari-hari selama seminggu ini.
Di minggu ini kebanyakan waktuku adalah online. Buka twitter, blog, email, goodreads, indowebster, dan masih coba-coba mencari film keempat dari seri film dewasa yang kutonton sebelumnya.
Di minggu ini kebanyakan waktuku adalah online. Buka twitter, blog, email, goodreads, indowebster, dan masih coba-coba mencari film keempat dari seri film dewasa yang kutonton sebelumnya.
Hal itu disebabkan oleh selesainya aplikasi klinik yang kubuat. Memang jauh dari keren, sangat sederhana sekali, tapi aku bangga pada diriku sendiri karena ternyata aku bisa membuat satu aplikasi--terlepas nanti akan dipakai atau tidak, kalau sampai dipakai berarti itu bonus #eaak!
Entah, Rabu atau Kamis, atau hari Selasa, yang jelas bukan Senin, Jumat, dan Sabtu, aku nonton film horror Amerika berjudul The Cabin in the Woods. Sebenarnya aku bisa saja mencek timeline twitterku untuk tahu hari tepatnya kapan aku nonton film itu. Secara aku langsung mentweetkan kesan-kesanku selepas nonton film bagus yang... Mengerikan itu.
Seperti biasa, tidak afdol rasanya bila tidak mereviewnya sedikit.
The Cabin in the Woods ini bercerita soal lima sahabat: Dana (cewek yang masih perawan), Jules (cewek tipikal remaja Amerika modern. Btw, sok tahu banget ya aku, emang tipikal cewek Amerika modern kayak apa ya? XD), Curt (cowok kekar, tampak sekali dia jago banget olahraga, dia pacar si cewek Amrik-modern), Holden (cowok yang suka belajar), dan Marty (cowok pecandu), hendak menghabiskan akhir minggu mereka dengan pergi ke rumah peristirahatan milik sepupu Curt yang berlokasi di tempat yang terpencil dan indah.
Adegan film ini diawali dengan tiga orang berpenampilan ilmuwan (mereka bukan ilmuwan sih, tapi dari sini aku memanggilnya begitu untuk lebih mudahnya) yang bicara soal kompetisi (tidak tepat disebut kompetisi sih, tapi karena aku belum nemuin kata yang tepat jadi ya aku sebut begitu saja). Kompetisi antar negara, dimana banyak negara yang gagal dan (peserta) Jepang selalu melaksanakan kompetisi dengan sempurna. Tiga ilmuwan yang merupakan ilmuwan Amerika itu merasa iri dan berharap semoga kali ini Jepang gagal.
Kemudian adegan berganti ke lima young-adult tadi. Dibuka oleh Dana yang sedang berkemas. Omong-omong Dana berkemas hanya mengenakan celana dalam untuk bawahannya (penting banget buat ditulis). Setelah lima orang itu berkumpul, naik truk, dan berangkat ke cabin sepupu Curt, camera mengambil gambar seorang lelaki yang kurang lebih bilang, "Target telah berangkat."
Jeng, jeng, target?!
Mereka berhenti sejenak di pom bensin yang berantakan sekali dan tampak seperti ditinggalkan orang. Tidak ada tanda-tanda seseorang, eh, pas muncul satu orang kemunculannya mengagetkan (salahkan scoring!)
Saat mereka hendak mencapai cabin, jalanan di dalam terowongan, ada burung yang terbang di sekitar situ. Burung itu terbang selayaknya burung tapi kemudian burung itu lenyap terbakar. Ada dinding tak kasat mata yang menyelubungi lokasi itu. Adegan ini ada di trailer.
Lima young-adult itu tiba di cabin di tengah hutan dan mereka semua... Suka! Sebab cabin itu meski diluar tampak kumal, dalamnya tampak sangat terawat. Ada adegan berenang di danau, terus mengobrol mengakrabkan diri, games truth or dare, tanpa mereka tahu telah diawasi oleh tiga ilmuwan yang muncul di awal film bersama teman-temannya melalui monitor. Saat giliran Dana, dia belum sempat memilih antara truth atau dare, pintu yang menuju ruang bawah tanah terbuka. Dia memilih dare, dan dare-nya adalah dia mesti turun ke ruang bawah tanah itu.
Ruangan itu berupa gudang. Berisi banyak sekali barang-barang. Mainan, buku-buku, foto, boneka, dan banyak benda lainnya. Dana mengambil sebuah buku harian. Dia memanggil teman-temannya dan mulai membaca. Hingga di suatu waktu meminta Dana agar tidak membaca bahasa latin dalam buku itu--tapi cewek itu tetap membacanya.
Tepat ketika Dana selesai membacanya, keluar sosok-sosok menyeramkan dari dalam tanah.
Curt dan Jules kemudian memisahkan diri. Mereka hendak melakukan "sesuatu yang panas" di hutan. Ada sedikit adegan buka-bukaan (tutup mata!), tapi lalu muncul sosok seram menjeda adegan mesra itu. Jules tertangkap dan dia... Lebih baik aku tidak menuliskannya. Takut spoiler.
Adegan berlanjut dengan Curt balik ke cabin sendirian. Kaosnya yang bersimbah darah langsung bikin semua temannya di cabin percaya. Tapi walaupun mereka tak percaya, sosok seram itu sedang mendobrak pintu, dan saat pintu dibuka dia melempar... Jules ke arah Dana.
Curt dibantu dan Dana menahan dan mendorong agar pintu kembali menutup. Awalnya Curt menyarankan agar mereka tetap bersama-sama. Tapi ilmuwan-ilmuwan yang mengawasi mereka tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia menekan beberapa tombol dan gas menguar lalu mempengaruhi Curt yang kemudian bilang, "Lebih baik kita berpencar."
Dan mereka berpencar, masuk ke kamar masing-masing.
Marty adalah orang pertama yang menyadari bahwa mereka diawasi dengan kamera. Sayangnya, salah satu sosok seram menyerangkan dan... Ada percikan darah!
The Cabin in the Woods adalah film horror tanpa penyensoran pertama yang aku tonton. Ngeri juga melihat darah muncrat dimana-mana dan benda-benda tajam menembus badan, meski semua itu hanya efek.
Film yang berdurasi sekitar 1,5 jam ini cukup mengejutkan. Penonton dibikin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pada ke-5 young-adult yang menginap di cabin. Apakah mereka masuk acara survival tanpa sepengetahuan mereka? Terus setelah muncul sosok seram, dan para ilmuwan tidak terkejut dengan kemunculan sosok-sosok tersebut, muncul pertanyaan lain, ada ya acara di Amrik yang juga melibatkan makhluk gaib? Kemudian setelah adegan-adegan lain, kalau ini benar acara reality show, berarti para ilmuwan itu manusia kejam tak berperi-kemanusiaan yang merekam pembunuhan demi mendapatkan keuntungan. Kalian juga pasti akan berpikir begitu, apalagi ada adegan dimana para ilmuwan berpesta ketika adegan berdarah di sekitar cabin dimulai.
Ada momen-momen dimana aku berpikir, legenda dijadikan reality show, terus kemudian saat tinggal dua orang (coba tebak siapa?) dan mereka berada di suatu tempat, pikiran soal legenda itu hilang dan digantikan oleh ohh, ternyata sosok menyeramkan itu... Dan aku makin bingung, sebenarnya film gabungan fantasy (horror) dan science-fiction ini poinnya apa sih? Tapi, tentu saja, pengertian itu baru muncul di akhir film.
Yang menganggu pikiranku adalah, apakah sistem "permainan" tim Jepang dan tim Amerika berbeda? Masalahnya tim Jepang dikatakan berhasil ketika *bip* dan tim Amerika *bip*. Sangat berbeda jauh.
The Cabin in the Woods mendapatkan nilai yang bagus dari para kritikus. Mungkin kalau endingnya tidak seperti itu, mungkin saja akan dibikin sekuelnya. Tapi tidak menutup kemungkinan dibikin prekuelnya.
Btw, bila kamu takut darah, bila kamu berjantung lemah tidak disarankan untuk menonton film itu. Efeknya terkesan riil, para krunya bekerja dengan sangat baik. Atau kalau masih mau lihat (meski takut), jangan cari bajakannya di internet, juga jangan nonton dvd atau di bioskop, tunggu sampai disiarin di tv--dan berharaplah ditayangkan Tra*nstv, di mana pemotongannya lebih "brutal" (belahan dada, rokok, gelas berisi alkohol langsung di-zoom, cut, ditindih gambar lain) ketimbang stasiun tv lain.
Sedikit curcol mengenai film yang disiarin tv, nih. Aku lebih suka menonton film yang disiarin oleh RC*TI atau Glo*baltv. Mereka sangat tahu jam malam. Dimana jam malam itu bisa diartikan anak-anak telah tidur. Dimana tidak perlu banyak pemotongan--kecuali adegan ciuman di bibir, ranjang, dan darah muncrat yang parah.
Suer, kadang sangat merusak bila terlalu banyak gambar yang dipotong, zoom dan ditindih. Maksud hati pengen nonton film, apa daya gambarnya diganti gambar lain. Seperti penayangan Mask of Zorro. Dimana harusnya ada scene "segar" munculnya Catherine Zeta Jones yang sedang mencium aroma bunga, eh, malah diganti gambar orangtua kumal yang nggak mandi berhari-hari.
Oke, cukup OOT-nya. Btw, hari ini hari terakhir pekaelku di bulan September. Kadang aku berharap pekael ini tidak berakhir. Secara dengan pekael aku mendapatkan akses internet gratis. Tapi yang namanya awal, pasti memiliki akhir, dan ketika saat itu tiba aku berharap rasa kehilangan itu telah berkurang banyak.
Oke, kalian boleh menyebutku opportunis. Karena bila aku tak melakukan... Well, you know, life isn't a movie (although I love [west] movies so much). Tapi tenang, meski aku opportunis aku tidak mengambil kesempatan yang beraroma negatif--cukup sekali dan telah jadi cemeti bagiku #malahcurcol.
hahahah, kalo kmu ngerasa ini mengerikan, cobak nontn film SAW :)) Tp aku sarankan nntn SAW 2 keatas yah.. :p teruuss.. Apalagi yah? Hmm tau Hostel? Itu jg kandidat :p aku blm nntn tp tmnku blng lumayan mengerikan :))
BalasHapusohiya, film2 kyk gt selalu ngasi pesan "hargailah hidupmu selagi masih ada." di film SAW motif si villain-ny ini ketara bgt deh ._.
BalasHapushahah, aku sih nggak gemar nonton gore :))
BalasHapus