Apa yang menyebabkan seorang disebut ekstrovert atau introvert? Tidak perlu aku carikan definisinyalah, aku yakin kalian semua tahu artinya. Atau kalau tidak tahu, ada google yang bisa dimanfaatkan ;)
Dulu sekali, saat aku masih muda, yang namanya main atau ngendon di rumah itu jarang banget aku lakukan. Seringnya itu kalau nggak main ke rumah temen, nongkrong di mall atau PS-an. Dan baru balik ke rumah ketika pukul 3 atau 4 sore. Itu pun buat mandi dan makan. Sebab sebelum maghrib, aku selanjutnya pergi ngaji di masjid (SD) atau TPA (SMP). Rumah itu hanya jadi tempat makan, mandi dan tidur. Selebihnya waktuku habis buat sekolah, main sama temen, dan kegiatan di luar rumah lainnya. Bahkan aku pernah nggak pulang seharian--pulang sekolah, ganti baju, makan, langsung pergi main hingga pulang keesokan subuhnya.
Baru setelah aku mendapat "tamparan", atau bisa juga jawaban atas pertanyaanku "apa yang nanti bisa kulakukan di masa depan?", duniaku jungkir-balik. Kebebasanku terenggut sementara.
Aku menyesal, tapi aku juga bersyukur. Seandainya aku tidak dikurung waktu itu bagaimana aku bisa bertemu dengan Vivid. Salah seorang sahabatku yang mengenalkan padaku dunia buku. Dari suka baca, ingin punya buku sendiri, hingga jadi penulis seperti sekarang.
Tapi aku menjadi introvert sejak saat itu.
Semenjak itu aku membawa sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui banyak orang. Cukup keluarga dan tetanggaku.
Tapi tentu saja, pada suatu hari ada yang mengendus rahasiaku itu. Untunglah beberapa sahabatku tidak menyinggungnya, meski aku yakin mereka tahu. Mereka masih mau berteman denganku.
Lalu aku masuk ke SMK.
Awalnya aku membuka diri. Hingga kemudian seorang guru bahasa Inggris menjadikanku lelucon dengan mengomentari kelebihanku yang sebenarnya dapat nilai A dari kursus bahasa Inggris saat aku kelas 3. Sekali lagi, aku menutup diriku.
Selama di SMK, aku mulai bisa membuka diri. Meski tidak seluruhnya. Pada sahabatku, Dude, dan teman sebangkuku, Rida--satu-satunya cewek di kelas kami. Menurut beberapa wali kelas kami, aku dinilai cukup aman duduk dengannya. Semua orang setuju bahwa aku punya pengendalian diri yang bagus.
Tahun terakhirku di SMK, aku mulai mengenal yang namanya getaran. Tentunya bukan Rida.
Dia dari kelas sebelah. Aku tidak bisa menyebutkan namanya, bahkan inisialnya. Dia adalah sosok rupawan yang pernah aku lihat ada di muka bumi. Ciptaan Tuhan yang, menurutku saat itu, diciptakan paling sempurna. Dan dia... Anak orang kaya.
Meski di tv atau buku yang kubaca sering menawarkan kisah dua insan yang dimabuk cinta bisa bersatu, rasa minder itu ada dan mengakar parah dalam diriku. Meski misalnya dia mau jadi pacarku, lalu saat aku mengajaknya keluar mau ditraktir apa dia? Uang sakuku saja hanya 6rb/minggu.
Aku jadi tertutup lagi. Lebih baik menahan diri daripada uring-uringan atau marah-marah nggak jelas.
Beberapa minggu kemudian, seorang temanku (pacar temanku), memberitahuku teman sekelasnya ada yang suka padaku. Inisial namanya W. Dan cewek itu cukup manis sebenarnya. Secara finansial, dia setaralah denganku.
Aku mencoba suka padanya. Dari saling sms-an, kadang aku menelponnya. Tapi aku nggak bisa membohongi hatiku bahwa aku suka pada orang lain.
Dan ya, hubungan itu, selepas dari sekolah tidak ada kelanjutannya.
Sekarang, sifat introvert itu jadi bagian diriku. Tapi aku telah belajar dari buku-buku. Terutama dari sifat elf di serial Eragon atau LOTR dimana kaum elfnya sangat dilarang berbohong. Tapi mereka tidak memberikan informasi rahasia melalui cara tidak menceritakan seluruhnya. Jadi aku menyembunyikan rahasia-rahasiaku di dalam karya-karyaku. Baik novel, cerpen, maupun posting blog.
Bagaimana dengan kalian? Kalian ekstrovert atau introvert?
P.S. Jangan tanya kenapa aku bisa nulis tulisan ini.
Posting Komentar