Day 22
Mr. A tidak datang. Aplikasi sederhana buatanku tidak jadi diperiksa.
Day 23
Mr. A datang. Tapi dia tampak lelah sekali. Aku sebenarnya merasa tak tega memintanya meninjau aplikasiku, tapi aku harus. Ini sudah bulan Oktober. Harusnya sejak akhir September waktu pekaelku habis--meski setengah bagian dari diriku sangat bersyukur pekael ini belum berakhir.
Mr. A tidak datang. Aplikasi sederhana buatanku tidak jadi diperiksa.
Day 23
Mr. A datang. Tapi dia tampak lelah sekali. Aku sebenarnya merasa tak tega memintanya meninjau aplikasiku, tapi aku harus. Ini sudah bulan Oktober. Harusnya sejak akhir September waktu pekaelku habis--meski setengah bagian dari diriku sangat bersyukur pekael ini belum berakhir.
Mr. A tidur dulu dan berjanji akan memeriksa aplikasi sederhana buatanku nanti siang.
Saat Mr. A bangun, dia keluar dulu. Mungkin beli minuman dan makanan. Sambil membuka pintu dia berkata, "Coba kamu print data pasiennya. Biar nanti mudah saya evaluasi."
Memprint data pasien? Kalau aku mau berpikir praktis, tentunya tanpa pikir panjang, aku bakal langsung memprintnya. Tapi aku paham yang dimaksud Mr. A. Dia minta sesuatu yang agak-agak mirip surat periksa. Dimana header dan menu aplikasi tidak ikut terprint saat data pasien diprinting.
Jadilah aku mencari kode php untuk print. Kode itu mudah diletakkan di aplikasiku. Tapi... Masalahnya header dan menunya masih ngikut pas aku lihat print previewnya.
Sekembalinya beliau, beliau memeriksa aplikasiku dan bilang, "Ini bukan aplikasi."
JDER!
Jadi yang selama ini aku lakukan, selama ini referensi yang aku contoh... Sia-sia?
"Kamu perbaiki lagi. Kamu tambah-tambahi lagi. Saya ingin aplikasinya..."
"Tidak seserhana ini?"
"Ya," katanya. Dia menjelaskan mengenai kenapa aku mesti menyelesaikan aplikasi ini. ICT adalah lembaga yang bisa membantu karirku di masa depan dengan sertifikatnya, seandainya aku ingin berkarir di jalur IT. Juga, bila aplikasiku jadi dan tidak sangat sederhana, aplikasiku itu bisa dijadikan bahan skripsi.
Oke. Demi mendengar kata skripsi itu, aku tidak gondok maupun kecewa. Aku malah bersemangat. Tidak masalah. Aku pasti bisa bikin aplikasi ini.
Day 24
Mulai mencari-cari data yang bisa membantuku dalam membuat aplikasi.
Juga mencari film Final Destination 5.
Day 25
Dapat film Final Destination 5!
Tapi aku belum sempat menontonnya.
Ketika aku minta izin pulang, Mr. A nyeletuk, "Nggak pulang nanti malam saja?"
Oh iya, di pagi hari hari ke-26 ini Mr. A meminta para mahasiswanya, termasuk aku, untuk membuat user leveling dalam aplikasi kami.
User leveling adalah membatasi akses setiap user. Karena aku klinik, maka akan ada tiga user: admin yang punya akses ke seluruh data. Dokter yang punya akses ke data dokter, obat dan pasien. Pasien yang kurang lebih sama dengan dokter, minus data dokter.
Apa aku bisa ya?
Day 26
Tidak ada hal yang spesial. Coba mencari lagi referensi buat user leveling yang ternyata susah banget dicarinya di internet.
Day 27
Hari dimana aku nonton Final Destination 5. Memang aku nontonnya dalam keadaan tidak tenang, takut Mr. A tiba-tiba membuka pintu kantor dan menangkap kering (?) diriku.
Final Destination 5 ini adalah film ke-3 Final Destination yang aku tonton yang adegan ngerinya aku tonton seluruhnya. Dua film lainnya adalah FD 1 dan FD 2 di transtv sebelum penyensoran adegan ngeri diberlakukan. Dan bisa dibilang adegan-adegan ngeri di FD 5 ini agak terlalu dipaksakan, menurutku.
Seperti kematian Candice yang tulangnya patah hingga tembus keluar. Dan, entah siapa namanya, cowok gendut berkacamata yang kepalanya hancur ditimpa patung berukuran kecil. Lalu si cewek seksi tapi matanya minus. Jatuhnya bisa dibilang nggak tinggi-tinggi amat, selain matanya yang copot (yang aneh) tidak ada keterangan selanjutnya tentang dia--padahal dia masih bisa "selamat" kalau segera dilarikan ke rumah sakit. Terus ada yang mati ketimpa sesuatu, bukannya ketimbun eh malah tubuhnya hancur berantakan.
Semua hal itu bisa saja terjadi, tapi sangat terkesan lebay. Terutama yang dua di awal. Candice itu kan sudah terbiasa dengan dunia senam, kok ya karena kelilipan saja refleksnya terganggu. Dan si cowok gendut ketimpa patung. Bila patung itu berat banget hingga menghancurkan tengkorak si cowok (setahuku, tengkorak adalah tulang kedua paling kuat setelah tulang gigi), berarti dudukannya atau raknya mestinya tampak solid dan kuat. Tapi dari pengamatanku, rak yang nempel di dinding itu terlihat tipis dan, tidak masuk akal, kuat dan mampu menahan beban berat patung yang sanggup menghancurkan tengkorak manusia. Dindingnya juga mestinya kuat sih, hal ini berkaitan dengan konstruksi raknya, tapi aku rasa tidak perlu dibahas lebih lanjut.
Setting FD 5 ini di Kanada. Tepatnya di Vancouver. Dan mengambil waktu sebelum kecelakaan pesawat 180. Setting waktu ini bisa jadi celah bagi kritikus film untuk mengomentari teknologi yang muncul di dalam film. Seperti mobil misalnya. Bisa hancur ilusi bahwa "FD 5 ini memang terjadi di dunia nyata" kalau sampai ada seseorang yang tahu mobil yang digunakan adalah mobil keluaran terbaru padahal tahun di dalam film beberapa tahun dari waktu sekarang. Hal itu akan memicu pernyataan, "wah, dia punya mobil dari masa depan."
Untungnya, aku tidak tahu dan kurang update soal mobil-mobil keluaran terbaru. Jadi aku tidak tahu mobil yang digunakan di FD 5 adalah mobil tahun keluaran zaman dulu atau sekarang.
Sekarang ini banyak orang memperhatikan hal detail. Sedikit saja memasukkan unsur yang tidak semestinya, tanpa penjelasan, bakal sangat vital mempengaruhi keinginan penonton untuk menonton film.
Misalnya saja di suatu tempat dimana belum terjangkau listrik. Sangat aneh bila ada penduduk yang mempunyai peralatan listrik. Akan jadi believable kalau disertai penjelasan mereka gunain listrik dengan gunain diesel.
FD 5 dapat nilai biasa. Menawarkan penjelasan baru cara memperpanjang umur dengan cara yang sadis. Bagiku, cara mati paling unik di seri FD masih kematian Todd di FD 1. Yang lainnya kalau nggak biasa saja, ya, aneh dan lebay.
Sebelum nonton FD 5, aku sempat nonton FD 3 yang disiarin salah satu tv swasta. Aku baru sadar ada satu kesalahan fatal di dalamnya. Handycam Frankie, penyebab pipanya (atau entah apa itu yang jaga safety beltnya tetap berfungsi) terlepas, tetap dibawa Frankie ketika ikut turun bersama korban "selamat" lainnya. Nah, berarti harusnya ada penundaan kecelakaan rollercoaster, bukan?
Ohh iya, dari FD 5 ini, ketika bagian ending, aku jadi tahu scene-scene yang biasanya dipotong di FD 3 saat ditayangin di tv. Kematian Ian McKinley yang aneh, kematian Erin (pacar Ian) dan Frankie yang mengerikan, kematian teman Julie yang biasa, dan scene-scene "pembantaian" di FD 4 (atau judulnya The Final Destination ? Soalnya di imdb nggak ada data FD 4). Aku belum nonton yang FD 4.
Pernahkah kalian bertanya-tanya apa sebenernya yang ingin disampaikan oleh serial FD? Mungkinkah bikin parno penontonnya? Karena, ini pengalaman nyata seseorang, ada lho yang jadi parno setelah nonton FD.
Menurutku, FD ini mengajak penontonnya untuk aware pada pertanda dari-Nya. Dan unsur thrillernya adalah bumbu filmnya. Karena pertanda itu seimbang, ada yang buruk dan ada yang baik.
Posting Komentar