08 Agustus 2012

Second Day (Pekael series)

Aku datang sama paginya seperti hari sebelumnya. Partnerku katanya datang telat--dia baru mau beranjak ke kamar mandi. Dan sama seperti kemarin, Ms. L yang membuka pintu perpustakaan. Tapi kali ini, ada Ms. U, salah satu petugas ICT, di dalamnya. Tapi dia tidak lama di situ. Dia hanya mencetak beberapa laporan bersama temannya sebelum pergi dan meninggalkanku sendiri.

Mr. A datang. Meski sedikit terlambat. Dia menawari kami mau sampai berapa lama kami melaksanakan PKL ini. Kami sih terserah saja. Tapi gara-gara hal itu beliau berkata, "Sampai September, ya?" Entah benar atau bercanda, Mr. A ini memang terkenal suka bercanda, kami pun hanya mengangguk-angguk pasrah. Bukankah tadi kami bilang terserah?

Rencananya waktu PKL kami akan dibagi dua. Pertama, ditetapkan di mulai kemarin, yakni tanggal 30 Juli hingga 18 Agustus. Untuk selanjutnya... Well, aku lebih ingin percaya untuk menganggap September itu hanya gurauan.

Mr. A memberi kami target selama PKL di ICT. Kami ditugaskan membuat manual mengenai software pengatur jaringan, The Dude for Windows dan membuat software untuk dipakai di klinik milik yayasan. Meski hanya dua, sudah pasti dua itu akan menguras habis-habisan tenaga kami.

Karena Mr. A sibuk, maka dia meninggalkan kami. Dan karena partnerku ada urusan pula, dan telah dijemput oleh temannya, dia ijin untuk tidak masuk hari ini. Nah, lho, berarti aku sendirian di (official) hari pertama PKL? It's okay for me. Malah aku seneng banget. Kejadian yang berlangsung selanjutnya bakal kukenang selama berhari-hari selanjutnya. Jika kalian hendak membaca post ini hingga akhir, aku peringatkan kalian siapkan diri karena ini goresan yang panjang. Dimana aku akan membahas dua hal di dunia dari daftar teratas hal-hal yang aku suka: film dan twitter.

Film yang aku tonton adalah... The Social Network.

Aku tentu saja seneng banget ketika menemukan file film tersebut di hardisk komputer di ICT yang bisa kugunakan. Sudah lama sekali aku ingin melihat film tentang pendiri fesbuk itu. Film yang sering masuk nominasi penghargaan film dan menghantarkan salah satu bintangnya, Andrew Garfield (yang awalnya kukira berperan sebagai Mark Z.), menjadi salah satu pemenang dalam sebuah penghargaan perfilman bergengsi.

Aku tidak menyangka film The Social Network ini mengangkat pemberitaan mengenai sengketa facebook yang sering muncul di media massa. Jadi ya, selain disuguhi oleh bagaimana awal mula facebook terbentuk, mata kita akan dipuaskan oleh drama pengadilan. Saling tuntut antara Mark Z dan si kembar Cameron dan Tyler Winklevoss, juga antara Mark Z dan sahabat baiknya, Eduardo Saverin (yang diperankan oleh Andrew Garfield, aku sangat mengenal nama ini karena dia yang didaulat jadi Peter Parker).

Aku tidak akan mereview filmnya. Mungkin di lain kesempatan. Mungkin di blogku yang satunya. Yang pasti aku memberikan nilai 9 dari 10 untuk film itu.

Karakter paling menarik ada tiga: Mark yang sulit diprediksi, Eduardo yang setia kawan, dan Cameron yang taat peraturan.

Mark yang sulit diprediksi ini bikin aku gemes. Gemes banget pengen nonjok wajahnya. Kenapa dia lebih percaya pada orang lain ketimbang Eduardo? Kenapa dia lebih membela Sean Parker yang bukan siapa-siapa (oke, dia yang menyarankan nama facebook, menggantikan thefacebook)? Tapi kesannya... Bahkan nenek-nenek kutubuku juga tahu kesannya dia "menendang" Eduardo dari facebook!

Aku nyaris nangis dan ikut marah pada Mark seperti Eduardo. Pengkhianatan. Bagaimana pun rasanya sangat buruk. Meski penonton tahu, Mark tidak sepenuhnya bertanggungjawab akan hal itu (tapi dia tidak mau repot-repot menjelaskan karena dia merasa dia bersalah). Tapi apa Mark ito bodoh? Eduardo itu care banget sama dia. Apa hanya Eduardo saja yang menganggap Mark sebagai sahabat, sedangkan Mark tidak? Eduardo bahkan langsung datang ke asrama Mark, mencoba menghiburnya, sesaat setelah tahu Mark baru putus cinta dengan Erica (Mark menuliskan semua yang dirasakannya di blognya).

Cameron juga masuk dalam daftar menarik perhatian karena... Sebagai cowok dia itu sangat taat peraturan. Di beberapa bagian aku dibikin tertawa (kagum juga sih) karena dia ngotot mau mengikuti peraturan. Walaupun pada akhirnya dia mengikuti saran kembarannya dan sahabatnya untuk menuntut Mark habis-habisan.

Endingnya... Kalau kalian mengikuti berita pasti tahu.

Film yang worth it banget buat ditonton. Tidak heran nilainya sangat tinggi di rotten tomatoes. Nyaris 100, euy!

Setelah nonton, aku membanjiri timeline dengan... Well, sedikit review dan kesan soal film itu.

Di tengah-tengah nonton The Social Network, Mr. H datang. Mencek traffic jaringan yang terkena gangguan. Jadi ya, sambil menunggunya memperbaiki jaringan agar kembali normal (bodohnya aku tidak melihatnya bekerja! Jangan salahkan aku, aku sedang bersimpati pada nasib Eduardo gara-gara keegoisan Mark) aku duduk di bangku plasti, memutar-mutar sampai menit berapa tadi aku nontonnya.

Untungnya Mr. H tidak lama-lama di kantor.

Aku kemudian online. Mengganti background twitter yang biasanya selalu gagal diganti di warnet dan di labkom kampus. Disini berhasil. Tapi ada masalah lain. Dimensi gambar berpengaruh pada seberapa lebar dari bagian gambar yang akan ditampilkan. Jengkel karena kebesaran terus (aku telah mencoba hingga sekitar empat file), aku membuka photoshop. Hasilnya? Kalian bisa lihat langsung di twitterku: @FJrean.

Ada kejadian unik saat aku hendak pulang. Pintu perpustakaan terkunci! Mana bunda nelpon minta aku jemput bapak lagi. Aku terjebak hingga jam dua ketika aku mengirim sms ke Mr. A. Mr. A mengirimiku dua nomor ponsel. Satu punya Mr. H, satu lagi Ms. U. Aku menghubungi Ms. U.

Moodku tidak berantakan. Aku senang akhirnya bisa nonton film sekeren The Social Network. Sesampainya di rumah aku keluarkan motor dan menggerakkannya menuju tempat di mana aku harus menjemput bapak.
|| | Copy Right By : Rean's Corner | Design By : Cuerosbhelatos ||
  1. hehe... boleh juga dunk, copy-in filmnya.. ^^
    udah menguasai masalah jaringan nih si dude.. ^^

    BalasHapus
  2. FD-nya nggak cukup :))

    Belum nguasai dude :))

    BalasHapus