Aku seolah berdiri di depan jalan buntu.
Ingin terus tapi terhambat karena tidak memiliki palu godam untuk menghancurkan dinding itu. Ingin memanjat tapi dindingnya terlalu tinggi dan aku tidak memiliki tali atau tangga. Dan aku tidak ingin memutar arah. Ada griever (tidak tahu apa itu? googling saja ya, hahah) yang siap menerkamku dan mencabik-cabikku.
Padahal sudah bulan Agustus. Bulan ke-8 di tahun ini. Tampaknya selain terhenti di jalan buntu, aku juga menutup "mataku" dari pertanda-Nya. Sehingga aku bisa terjebak disini, tidak keluar-keluar.
Oke, jadi dua paragraf diatas... aku mencoba puitis dan mencoba bikin bingung kalian. Ini dia kalimat mudahnya: Aku malas. Bukan malas, atau tepatnya, aku memilih tidak melakukan apapun. Aku ingin diam saja. Aku ingin hidup sederhana untuk beberapa saat saja, tidak peduli dengan tuntutan dunia, tidak peduli pada peraturan, tidak peduli apakah hari esok aku masih... bisa menikmati manisnya makanan.
Tapi karena hidup... maka kita tidak boleh diam. Kita mesti terus kalau ingin kata enak menghampiri hidup kita. Tidak perduli jalan buntu menghadang di depan. Jalan buntu akan jadi jalan buntu hingga kita membuat lubang agar kita bisa melewatinya.
Posting Komentar