Aku tiba di kantor tepat pukul 9. Pintu kantor terrbuka lebar. Di dalamnya sudah ada dua orang: Miss U dan Mr. A.
Belum sempat aku duduk di kursi rotan, belum sempat aku menyapa mereka berdua, Miss U berdiri dan pamit pergi ke kampus. Entah hanya perasaanku atau dia memang sengaja menungguku datang.
Baru dua detik aku duduk di kursi rotan, Mr. A memintaku dengan sangat sopan mengambil galon air.
"APA?" Tentu saja aku tidak mengucapkannya keras-keras. Aku meneriakkannya dalam hati.
Belum sempat aku duduk di kursi rotan, belum sempat aku menyapa mereka berdua, Miss U berdiri dan pamit pergi ke kampus. Entah hanya perasaanku atau dia memang sengaja menungguku datang.
Baru dua detik aku duduk di kursi rotan, Mr. A memintaku dengan sangat sopan mengambil galon air.
"APA?" Tentu saja aku tidak mengucapkannya keras-keras. Aku meneriakkannya dalam hati.
Karena merasa tidak enak (atau tidak kuasa) menolak, dengan langkah terseok-seok kuambil galon kosong yang bertengger manis di atas dispenser di pantry (oh iya, kantor mungil pekaelku sudah dilengkapi pantry dimana kalian bisa bikin teh dan kopi). Menjinjingnya seolah itu benda paling ringan sedunia di depan Mr. A, tapi terus memeluknya seolah takut jatuh dan pecah ketika aku sudah berada di luar ruangan.
Miss U ternyata belum berangkat ke kampus. Dia masih ada di lobi perpustakaan. Atas saran Mr. A(herannya, kok dia bisa tahu Miss U belum berangkat ya?), aku bertanya padanya dimana aku bisa mengisi air. Miss U memberi arah dimana aku bisa mengisi air: kantin.
Awalnya aku berpikir aku bakal menukar galon kosong yang kubawa dengan galon baru. Ternyata dugaanku salah besar!
"Silakan diisi," kata petugas kantin, seorang wanita paruh baya berjilbab, kalau nggak salah ingat sih warna jilbabnya, cokelat.
Aku menatapnya dengan pandangan kosong. Mengisi?
Wanita itu menunjuk keran di depanku.
"Ini air minum?" Tanyaku, mengkorfimasi. Dia mengangguk kuat-kuat. Batinku, nggak salah nih?
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dan meihat beningnya, hingga membaui air itu, aku tahu air itu memang air minum. Aku tak tahan untuk tidak mendongak. Ada semacam jaringan pipa rumit dan tabung yang tampaknya berfungsi sebagai filter yang terhubung dengan keran air minum itu.
Aku tidak mengisi galon hingga penuh. Sempat diledek sama wanita petugas kantin, "Masa nggak dipenuhin. Secara cowok."
Oke, dia tidak benar-benar bicara gaul kayak gitu. Tapi itulah intinya.
Kujawab, "Bukan gitu, tan. Tapi galon ini nggak punya tutup. Takutnya airnya kemana-kemana, tumpah membasahi saya."
Wanita itu manggut-manggut. Jawaban itu selain benar juga mengamankan diri dari komentar berbau gender. Lalu kuangkat galon itu dengan cara dipeluk. Sepanjang perjalanan mataku tak bisa lepas memperhatikan permukaan air. Terombang-ambing ke sana kemari tapi tidak sampai tumpah.
Bilang saja aku katrok, deso, kampungan saat aku kesulitan memasang galon diatas dispenser. Biasanya kalau menaruh galon terbalik selalu dengan botol yang tertutup dimana nanti tinggal disobek... Untunglah, Mr. A datang membantu. Mencopot bagian teratas dispenser, menaruhnya di mulut galon, lalu dia menyuruhku mengangkatnya dan memasangkannya di atas dispenser. Dan, taraa!, dispenser sudah siap menyediakan minuman.
Hari ini aku mau tak mau, antara takut dan tidak, karena lupa bawa flash, jadinya cari-cari info buat proyek terbaruku: novel Amore untuk kepentingan lomba. Aku tidak berani buka twitter, secara Mr. A duduk di meja tepat di belakangku.
Baru ketika dia keluar aku curi-curi waktu buat bertwitter ria, heheh.
Posting Komentar